subscribe: Posts | Comments

Jubah Tambalan

0 comments
Jubah Tambalan

Seorang Yahudi dari Damaskus yang membaca Kitab Suci (Al-Qur’an), suatu hari menemukan secara kebetulan nama Nabi Muhammadb SAW, tertulis didalamnya. Tidak suka dengan hal itu, dia mengubah nama tersebut. Tetapi hari berikutnya dia menemukannya lagi. Lagi-lagi dia membuangnya, tetapi pada hari berikutnya nama tersebut muncul lagi.

Dia berpikir:

“Barangkali ini merupakan suatu tanda bahwa seorang utusan yang sesungguhnya telah datang. Aku akan berangkat kearah selatan, aku akan pergi ke Madinah.”

Dan dia dengan segera memulai perjalanannya, tanpa memperlambat lagi hingga sampai ke kota Nabi SAW, Madinah.

Ketika dia tiba disana, tanpa diketahui seorangpun, dia telah berada di dekat masjid Nabawi, bersamaan dengan tibanya sahabat Anas ra. Dia berkata kepada Anas, “Sahabat, bawa aku kepada Nabi.”

Anas ra, membawanya masuk ke dalam masjid yang telah penuh orang dengan kesedihan yang dalam. Abu Bakar r.a. sang pengganti tengah duduk di sana memimpin para sahabat. Orang Yahudibtersebut menghampirinya, menyangka dia pasti Muhammad SAW dan berkata, “Wahai utusan pilihan Tuhan, seorang tua yang telah tersesat telah datang untuk memanjatkan kedamaian atasmu.”

Mendengar sebutan atas Nabi SAW, dipergunakan oleh orang tersebut, semua orang yang hadir tiba-tiba menangis berurai air mata. Orang asing tersebut bingung atas apa yang dilakukan. Dia berkata:

“Aku orang asing dan seorang Yahudi, dan aku tidak menyadari upacara agama mengenai penyerahan kepada Kehendak Allah (Islam). Apakah aku telah berkata sesuatu yang tidak menyenangkan? Haruskah aku berdiam diri saja dalam upacara ini? Atau apakh ini perayaan ritual? Mengapa kalian menangis? Jika hal ini merupakan upacara, aku tidak pernah mendengan tentang hal ini.”

Sahabat Umar r.a. berkata kepadanya:

Kami tidak menangis karena sesuatu yang telah anda lakukan. Tetapi anda harus mendengar, orang yang malang, bahwa hal ini terjadi tidak lebih dari seminggu sejak Rasul wafat. Ketika kami mendengar namanya anda sebut, duka cita menguasai hati kami kembali.”

Segera setelah mendengar hal ini, orang tua tersebut menyobek pakaiannya dalam kesedihan yang mendalam. Ketika sudah sedikit agak pulih, dia berkata:

“Lakukan satu kebaikan hati untukku. Biarkan aku memiliki setidaknya sebuah jubah milik Nabi. Kalau aku tidak dapat bertemu dengan beliau, setidaknya biarkan aku memiliki jubah beliau.”

Umar r.a menjawab, “Hanya Ummi Zahrah yang dapat memberi kita salah satu dari jubah beliau.”

Ali r.a. berkata:

“Tetapi Ummi Zahrah tidak akan mengijinkan seseorang datang mendekatinya.”

Meskipun demikian, mereka perti ke rumah Ummi Zahrah dan mengetuk pintunya, serta menjelaskan apa yang mereka inginkan.

Ummi Zahrah menjawab:

“Sesungguhnya Rasulullah SAW telah berkata dengan jujur, ketika beliau mengatakan tidak lama sebelum beliau wafat. ‘Seorang pelancong yang cinta kepadaku dan seorang yang baik akan datang ke rumah ini. Dia tidak akan melihatku. Oleh karena itu berilah dia jubah tambalan ini seolah dariku. Dan demi aku, perlakukan dia dengan bijak, beri salam’.”

Orang Yahudi tersebut mengenakan jubah tambalan untuk dirinya sendiri dan mengucap syahadat. Dia meminta diantarkan ke makam Rasulullah SAW. Sesampainya di makam, dia telah menghembuskan nafas terakhir.

Subhanallah, semoga kita mendapatkan Qusnul Khotimah saat ajal menjemput.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *