subscribe: Posts | Comments

Si Kikir dan Malaikat Maut

0 comments
Si Kikir dan Malaikat Maut

Setelah bekerja keras, berdagang dan meminjamkan (uang) si kikir telah menumpuk harta tiga ratus ribu dinar. Ia memiliki tanah luas dan banyak gedung, dan segala macam harta benda.

Kemudian ia memutuskan untuk beristirahat selama satu tahun, hidup nyaman, dan kemudian menentukan mengenai bagaimana masa depannya. Tetapi segera setelah ia berhenti mengumpulkan uang, ketika itu juga muncul Malaikat Maut di hadapannya untuk mencabut nyawanya.

Si Kikir pun berusaha dengan segala daya upaya, agar Malaikat Maut yang pantang menyerah itu, tidak jadi menjalankan tugasnya. Ia berkata:

“Bantulah aku, hanya tiga hari saja, dan akan kuberikan sepertiga hartaku.”

Malaikat Mau menolak, dan mulai menarik nyawa si kikir. Kemudian si kikir berkata lagi:

“Jika engkau membolehkan aku tinggal dua hari lagi, akan kuberi engkau dua ratus ribu dinar dari gudangku.”

Tetapi sang Malaikat Maut tidak mau mendengarkannya. Bahkan ia menolak memberi tambahan satu hari demi tiga ratus ribu dinarnya. Kemudian si kikir berkata:

“Tolonglah, kalau begitu beri aku waktu untuk menulis sebentar.”

Kali ini Malaikat Maut mengizinkannya, dan si kikir menulis dengan darahnya sendiri.

“Wahai manusia, manfaatkan hidupmu. Aku tidak dapat membelinya dengan tiga ratus ribu dinar. Pastikan bahwa engkau menyadari nilai dari waktu yang engkau miliki.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *