subscribe: Posts | Comments

Sejarah Masuknya Islam di Banjarmasin

3 comments
Sejarah Masuknya Islam di Banjarmasin

Perjalanan penulis dalam mencari sesuap nasi, akhirnya membawa kami untuk sering bersinggungan dengan Kota Banjarmasin. Sebuah kota yang mayoritas penduduknya sangat religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat ketimuran maupun Islam.

Dalam pengalaman kami, dimana pada waktu yang lalu banyak dari crew kami yang masih belum mampu menjalankan ibadah puasa dengan penuh. Pada masa tersebut, kami mendapatkan pekerjaan pembuatan railing tangga di daerah Banjarbaru bertepatan dengan bulan puasa.

Beberapa crew kami mencoba mencari makan siang di sekitaran lokasi proyek Q Grand Dafam Hotel, yang kemudian ditolak oleh beberapa warung makan. Ternyata ada perda yang mengatur pelayanan makanan pada daerah Banjarmasin, Banjarbaru dan Martapura. Hal ini membuat kami merasa malu, namun sekaligus penasaran dengan asal muasal Islam di daerah Kalsel.

Pada kesempatan lain kami coba menanyakan hal ini kepada P Agus – sopir taxi langganan kami. Menurut P Agus, Islam datang ke Kalsel berhubungan dengan Kerajaan Demak yang didukung oleh Walisongo. Pada masa tersebut Kerajaan Banjar mengalami peperangan, dan Kerajaan Demak mengajukan bantuan kepada Kerajaan Banjar.

Kerajaan Demak tidak menuntut upah materi kepada Raja Banjar. Namun, apabila Raja Banjar memenangkan peperangan tersebut, Kerajaan Demak meminta agar Raja Banjar bersedia memeluk Islam.

Kamipun mencoba melakukan cross check dengan sejarah Islam di Banjar. Dan menurut sejarah:

Masuknya Islam ke kawasan Kalimantan Selatan melalui dua pintu. Pertama, Islam masuk melalui selat Malaka melalui transaksi dan komunikasi perdagangan. Pada fase jatuhnya Malaka ke tangan penjajah Portugis membuat dakwah semakin menyebar, karena komunitas Islam kebanyakan mendiami pesisir Barat Kalimantan bergerak dari satu tempat
ke tempat lainnya untuk menghindari tekanan kolonial
Kedua, Islam disebarkan oleh para dai yang sengaja dikirim dari Tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini menemui puncaknya saat Kerajaan Demak berdiri. Demak mengutus banyak mubaligh ke negeri ini. Perjalanan dakwah pula yang akhirnya melahirkan Kerajaan Islam Banjar
Dr. Musyrifah Sunanto dalam bukunya “ Sejarah Peradaban Islam “ yang mengutip pendapat J.J. Ras. Hikayat Banjar, A study in Malay Historiography dan Taufik Abdullah,dalam bukunya Sejarah Umat Islam Indonesia menyatakan bahwa “ Islamisasi kerajaan Banjar di Kalimantan Selatan berasal dari Demak. Rajanya yang pertama, Raden Samudera, masuk Islam dengan gelar Suryanullah atau Suryansyah. Wilayahnya meliputi Sambas, Batang lawai, Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Medawi, dan Sambangan.
Proses Islamisasi kerajaan banjar diwarnai dengan trik dan intriks politik berupa pergolakan dikalangan istana, perebutan kekuasaan yang menyebabkan pangeran Samudera tersingkir. Dalam perjalanannya menghimpun kekuatan untuk merebut tahtanya dengan meminta bantuan dari kerajaan Demak. Demak bersedia membantu dengan syarat Pangeran Samudera harus memeluk Agama Islam.
Dr. Badri Yatim dalam Bukunya “ Sejarah Peradaban Islam “ Menulis bahwa “ Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1526 M dan yang menjadi Sultan Demak ketika itu adalah Trenggano, Sultan ketiga yang berkuasa pada tahun 1521-1546 M. Ketika Suryanullah naik tahta, beberapa daerah sekitarnya telah mengakui kekuasaannya, yakni Sambas, Batang lawai, Sukadana, Kotawaringin, Sampit, Medawi, dan Sambangan.
Di Kalimantan Selatan terutama sejak abad ke-14 sampai awal abad ke-16 yakni sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar yang berorientasikan Islam, telah terjadi proses pembentukan negara dalam dua fase. Fase pertama yang disebut Negara Suku (etnic state) yang diwakili oleh Negara Nan Sarunai milik orang Maanyan.
Fase kedua adalah negara awal (early state) yang diwakili oleh Negara Dipa dan Negara Daha. Terbentuknya Negara Dipa dan Negara Daha menandai era klasik di Kalimantan Selatan.
Negara Daha akhirnya runtuh seiring dengan terjadinya pergolakan istana, sementara lslam mulai masuk dan berkembang di samping kepercayaan lama. Perkembangan ini ditandai dengan runtuhnya kerajaan Negara Daha beralih ke periode negara kerajaan ( kingdom state) dengan lahirnya kerajaan baru, yaitu Kerajaan Banjar pada tahun 1526 yang menjadikan Islam sebagai dasar dan agama resmi kerajaan.
Kerajaan Banjar terjadi pada abad ke-17 hingga abad ke-18 merupakan puncak perkembangan Islam di Kalimantan Selatan sebagaimana ditandai oleh lahirnya ulama-ulama yang t erkenal dan hasil karya tulisnya menjadi bahan bacaan dan rujukan di berbagai negara, antara lain Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
Muhammad Arsyad dilahirkan pada tahun1122H atau 1710 M di desa Lok Gabang, Martapura. Pada waktu berumur kurang lebih 8 tahun ia dipungut oleh Sultan Banjar untuk diasuh dan dididik di istana. Kemudian ia dikawinkan dan menjelang umur 30 tahun diberangkan belajar memperdalam ilmu agama Islam di Mekah.
Muhammad Arsyad tiba kembali di Martapura ibu kota Kerajaan Banjar, pada bulan Ramadhan tahun 1186 H (1772 M). Ia kembali setelah memperoleh keahlian khusus dalam ilmu Tauhid, Fiqh, ilmu Falak dan ilmu Tasauf.
Usahanya dalam menyebarkan Islam di daerah Kerajaan Banjar pada waktu itu dimulai dengan melakukan pengajian, kemudian menyebarkan anak cucunya (muridnya) yang telah memperoleh kealiman ke daerah-daerah pedalaman, di samping itu menulis kitab-kitab agama dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab.
Sementara itu, Muhammad Nafis, seorang tokoh ulama berusaha menyebarkan Islam di wilayah pedalaman Kalimantan. Dia memerankan dirinya sebagai ulama sufi yang khas dalam menyebarkan ajaran Allah dan Rasul-Nya ke daerah pedalaman. Dan oleh karena itu, beliau memainkan peranan penting dalam mengembangkan Islam diKalimantan.
Dengan demikian Islam masuk Kalimantan Selatan mencapai puncaknya setelah pasukan Kesultanan Demak datang ke Banjarmasin untuk membantu Pangeran Samudra dalam perjuangannya melawan kalangan elite di Kerajaan Daha. Setelah kemenangannya, Pangeran Samudra memeluk Islam pada sekitar tahun 936 H /1526 M, dan diangkat sebagai sultan pertama di Kesultanan Banjar. Dia diberi gelar Sultan Suriansyah atau Suyanullah oleh seorang da’i Arab. Dengan berdirinya Kesultanan Banjar, maka Islam di anggap sebagai agama resmi negara.

Cras rhoncus ipsum ac dolor. In hac habitasse platea dictumst. Nulla dapibus ultricies pede. Quisque augue risus, porttitor nec, suscipit ut, pellentesque quis, lacus. Duis adipiscing purus eu metus pharetra porttitor. Aenean sapien nisi, sodales non, facilisis nec, ultricies et, erat. Cras aliquam. Maecenas mi. Sed lacus arcu, malesuada id, ultricies et, ornare non, dolor. Maecenas turpis lacus, vehicula nec, blandit in, laoreet a, nibh. Donec aliquet. In et leo tincidunt tortor rhoncus convallis. Nulla facilisi. Praesent bibendum semper eros. Morbi risus. Nam tellus leo, ullamcorper egestas, venenatis quis, viverra ac, mauris. In hac habitasse platea dictumst. Curabitur at velit vel sem auctor hendrerit. Integer mauris orci, vehicula eu, feugiat ac, hendrerit ut, dolor. Fusce elit nulla, gravida quis, vulputate eu, rutrum vel, lectus. Integer cursus luctus nisl. Quisque quam. Aliquam lectus urna, porta in, viverra eu, pellentesque a, massa. Etiam eros sapien, porta et, aliquam et, bibendum sit amet, erat. Sed condimentum interdum lacus. In ut ante non felis tincidunt porta. Aenean aliquet ornare sem. Nunc dignissim, erat sit amet vulputate cursus, elit magna facilisis massa, quis hendrerit nunc odio id dui. Proin interdum dictum arcu. Pellentesque erat ante, ultricies ac, porttitor ac, dictum et, purus. Donec enim odio, gravida ut, imperdiet quis, rutrum ut, lacus.

Etiam pharetra scelerisque diam. Maecenas varius augue vel urna. Vestibulum erat nisl, fringilla vel, mollis et, aliquam non, elit. Nulla malesuada turpis nec velit. Donec vitae sem a metus dictum molestie. Ut dignissim, odio non porttitor convallis, sapien leo viverra lorem, a consequat mauris erat sit amet dui. Nullam rutrum feugiat massa. Nullam lacinia purus vitae massa. Pellentesque vel tortor eget nulla ullamcorper vehicula. Cras egestas euismod magna. Praesent laoreet aliquet nulla. Aliquam arcu. Proin vel neque non ligula sodales sagittis. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Sed magna. Pellentesque aliquet mollis arcu. Morbi at felis. Suspendisse ligula. Aliquam nisl arcu, vehicula vitae, hendrerit ut, sodales eu, augue. Sed tristique pretium risus. Ut luctus, dui quis commodo luctus, quam nulla ultricies lorem, eu ornare nulla metus at leo. Praesent rhoncus sapien sit amet mauris. Aenean commodo erat eu eros. Morbi tristique, risus sed consequat bibendum, enim augue tincidunt quam, ac semper libero velit vitae eros.

  1. Ut luctus, dui quis commodo luctus, quam nulla ultricies lorem, eu ornare nulla metus at leo. Praesent rhoncus sapien sit amet mauris. Aenean commodo erat eu eros. Morbi tristique, risus sed consequat bibendum, enim augue tincidunt quam, ac semper libero velit vitae eros.

  2. Pellentesque vel tortor eget nulla ullamcorper vehicula. Cras egestas euismod magna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This