subscribe: Posts | Comments

Tiga Orang Tuli dan Sufi Bisu

11 comments
Tiga Orang Tuli dan Sufi Bisu

Pada suatu ketika, hidup seorang penggembala miskin. Setiap hari ia membawa domba-domba ke bukit mencari rumput segar, sambil memandangi desa di mana ia tinggal dengan keluarganya. Ia tuli, tetapi hal itu tidak menjadi masalah baginya. Suatu hari, istrinya lupa mengirim bungkusan makan siangnya; juga tidak menyuruh anak mereka untuk membawakannya, sebagaimana berlalunya waktu, kiriman itu tetap terlupakan, bahkan saat matahari sudah di atas kepala.

“Aku akan pulang dan mengambilnya,” pikir si penggembala. “Aku tidak dapat tinggal disini sepanjang waktu sampai matahari turun tanpa sepotong makanan.” Tiba-tiba ia memperhatikan seorang pemotong rumput di tepi bukit. Ia menghampirinya dan berkata, “Saudaraku, tolong jaga domba-domba ini dan awasi jangan sampai tersesat atau berkeliaran, karena istriku begitu bodoh melupakan makan siangku, dan aku harus kembali ke desa karena itu.” Pemotong rumput itu juga tuli, dan ia tidak mendengar satu katapun yang diucapkan, dan sama sekali salah paham terhadap maksud si penggembala.

Jawabnya, “Mengapa aku harus memberimu rumput yang kupotong untuk binatang piaraanku sendiri? Aku mempunyai seekor sapi dan dua ekor kambing di rumah, dan aku harus pergi jauh demi mencari makanan untuknya. Tidak, tinggalkan aku. Aku tidak berurusan dengan orang sepertimu, ingin mengambil milikku yang cuma sedikit.”

Dan ia menggerakkan tangnnya dalam sikap mengejek, tertawa kasar. Si penggembala tidak mendengar apa yang dikatakannya, dan menjawab, “Oh, terima kasih, teman baik, atas kesediaanmu. Aku akan sesegera mungkin kembali. Semoga keselamatan dan berkah atas dirimu, engkau telah meringankan pikiranku.” Ia berlari ke desa menuju pondok sederhananya. Di sana ia mendapati istrinya sakit demam, dirawat oleh para istri tetangga. Ia mengambil bungkusan makanan dan berlari kembali ke bukit. Dia menghitung domba-dombanya dengan cermat, dan semuanya masih lengkap.

Si pemotong rumput masih sibuk dengan pekerjaannya, dan si penggembala itu berkata pada dirinya sendiri, “Betapa luar biasa pribadi pemotong rumput yang dapat dipercaya ini. Ia sudah menjaga domba-dombaku agar tidak terpencar, dan tidak mengharapkan terima kasih atas pelayanan tersebut. Aku akan memberinya domba pincang ini yang semula memang akan kusembelih. hal itu akan menjadi makanan lezat baginya dan keluarganya nanti malam.” maka sambil memanggul domba pincang di atas bahunya, dia berlari menuruni bukit serta berteriak, “Hai, saudaraku, ini hadiah dariku, karena engkau telah menjaga domba-dombaku selama aku pergi. Istriku yang malang menderita demam, dan itu menjelaskan semuanya. Pangganglah domba ini untuk makan malam nanti; lihat, ia mempunyai kaki yang pincang dan memang akan kusembelih.”

Tetapi di lain pihak, si pemotong rumput tidak mendengar kata-katanya dan berteriak marah. “Penggembala busukAku tidak pernah melihat apa yang telah terjadi selama kau pergi, bagaimana aku harus bertanggung jawab atas kaki pincang dombamu. Aku sibuk memotong rumput, dan tidak tahu bagaimana hal itu terjadi. Pergilah, atau aku akan memukulmu.”

Si penggembala itu amat heran melihat sikap marah orang tersebut, tetapi ia tidak dapat mendengar apa yang dikatakannya, maka ia memanggil seseorang yang tengah melintas menunggang seekor kuda yang bagus. “Tuan yang mulia, aku mohon katakan padaku apa yang diucapkan pemotong rumput ini. Aku mengalami tuli, dan tidak tahu mengapa ia menolak pemberianku berupa seekor domba, dengan kekesalan seperti itu.”

Si penggembala dan pemotong rumput mulai berteriak pada musafir tersebut, yang kemudian turun dari kudanyadan menghampiri mereka. Sang musafir yang ternyata adalah pencuri kuda dan sama tulinya, iapun tidak mendengar apa yang mereka katakan. Ia tersesat dan berkasud bertanya dimana dirinya berada saat ini. Tapi ketika melihat sikap mengancam dari kedua orang tersebut, ia berkata, “Benar saudaraku, aku telah mencuri kuda. Aku mengakui, tapi aku tidak tahu kalau itu milik kalian. Maafkan aku, karena aku cepat tergoda dan telah bertindak tanpa berfikir.”

“Aku tidak tahu apa-apa tentang pincangnya domba ini.” teriak pemotong rumput.

“Suruh ia mengatakan kepadaku, mengapa menolak pemberianku,” desak si penggembala, “aku hanya ingin memberikannya sebagai penghargaan.”

“Aku mengaku mengambil kuda,” ujar pencuri, “tapi aku tuli, dan aku tidak tahu siapa diantara kalian pemilik kuda ini.”

Pada saat itu, dari kejauhan, tampak seorang sufi tua, berjalan sepanjang jalan berdebu ke arah menuju desa. Si pemotong rumput lari menghampirinya, menarik jubahnya dan berkata:

“Darwis yang mulia, aku orang uli yang tidak dapat mengerti ujung pangkal dari apa yang dibicarakan dua orang ini. Aku mohon dengan kebijaksanaan anda, adili dan jelaskan apa yang mereka teriakkan masing-masing.”

Namun si sufi itu bisu dan tidak dapat menjawab, tapi ia mendatangi mereka dan memandangi ketiga orang tuli tersebut dengan penuh selidik, yang sekarang telah menghentikan pembicaraan mereka.

Ia memandangi demikian lama dan dengan tajam, satu persatu, hingga mereka mulai merasa tidak enak. Mata hitamnya yang berkilau menusuk ke dalam mata mereka, mencari kebenaran tentang persoalan tersebut, mencoba mendapatkan petunjuk pada situasi itu. Tetapi masing-masing orang tuli tersebut mulai merasa takut kalau-kalau ia akan menyihir mereka, atau mengendalikan kemauan mereka. Tiba-tiba si pencuri meloncat ke atas kuda dan melarikannya dengan kencang sekali. Begitu pula dengan si penggembala, segera mengumpulkan ternaknya dan menggiring jauh keatas bukit. Si pemotong rumput tidak berani, tidak berani menatap mata si darwis, mengemasi rumputnya ke dalam kantong dan mengangkatnya di atas bahu, berjalan menuruni bukit menuju rumahnya.

Darwis itu melanjutkan perjalanannya, berpikir sendiri bahwa kata-kata kadang merupakan bentuk komunikasi yang tidak berguna, bahwa orang mungkin lebih baik tidak pernah mengucapkannya.

  1. Mauris ante ante, gravida at, consectetuer quis, ullamcorper ornare, magna. Duis sed mauris sed libero tincidunt rutrum. In vulputate pretium dolor. Nulla ultricies felis vel erat.

  2. orbi ac mi. Nunc eget nisi. Donec at enim. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas. Sed diam. Ut sagittis ultrices urna. Suspendisse eget erat non purus varius sodales.

  3. Vestibulum euismod nunc at eros. Pellentesque nec ligula non tellus accumsan molestie. Pellentesque felis massa, tincidunt at, pulvinar id, placerat nec, velit.

  4. great template!

  5. Flickr widget would be a bonus

  6. Yeah for threaded comments!

  7. this theme rocks!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This