subscribe: Posts | Comments

Tentang Demokrasi

0 comments
Tentang Demokrasi

Suara rakyat adalah Suara Tuhan. Rasanya terlalu berlebihan saat ini. Kata-kata ini begitu sering dan lantang diucapkan wakil-wakil kami. Jika suara rakyat adalah suara Tuhan, maka seharusnya kamilah tuhan-tuhan itu.

Tapi rasanya kami juga tidak sampai sejauh itu. Entah sebenarnya siapa yang memilih mereka-mereka yang fotonya dicetak, untuk kami coblos, contreng atau apapun yang diminta agar memilih mereka.

Kami bahkan tidak pernah kenal dengan siapapun yang saat ini kami pilih. Kami juga tidak pernah menentukan mereka-mereka itu untuk menjadi pilihan kami.

Katanya partailah yang memilih mereka. Berarti mereka bukan Tuhan, bahkan bukan wakil kami. Mereka wakil partai, dan tidak berhak menggembar-gemborkan sebagai wakil kami, apalagi mengaku sebagai suara Tuhan.

Pada saat seperti ini, dimanakah keluhuran musyawarah untuk mufakat. Dalam musyawarah, kami tidak hanya memilih, melainkan juga mengeluarkan pendapat. Kenapa kami tidak menggunakan akar budaya kami sendiri? Kenapa kami mengadopsi sistem seperti ini?

Apakah ini hanya akal-akalan para wakil-wakil kami agar dapat menuhankan dirinya sendiri?

Sangat sulit mencari jawabannya saat para Firaun memiliki wajah Musa.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Share This