subscribe: Posts | Comments

Bangbang Wetan Maiyah ‘Macak Gagah’

0 comments
Bangbang Wetan Maiyah ‘Macak Gagah’

Malam ini iseng-iseng saya pengen juga nongkrong di acara maiyah Cak Nun – Bangbang wetan. Acara yang mengingatkan saya kepada pengajian almarhum Gus Mik, maupun pengajian-pengajian sejenis yang saat ini makin berkurang peminatnya di kota asal saya, Kediri.

Dalam forum pengajian tersebut diatas, tidak ada baju tema tertentu, seperti lazimnya pengajian jaman now. Sampeyan bebas datang pakai baju apapun mulai dari kaos oblong, celana yang sudah mbulak, pakai sarung, celana 3/4, pakai kopyah, maupun gak pakai kopyah. Yang penting pakai baju yang biasa digunakan sehari-hari.

Disana, pihak tuan rumah hanya menyediakan camilan dan kopi untuk kyai yang datang mengisi acara. Yang berarti satu hal, yaitu bagi yang bukan kyai alias 99% lebih orang biasa yang datang, silahkan ngowoh sambil gigit jari. Beruntung kalau tuan rumah termasuk orang mampu. Kacang kulit dalam piring dan air putih tersedia untuk dibagikan.

Keputusan sohibul hajat hanya menyediakan camilan dan kopi dengan kaidah minimalis ini ada alasannya. Pengajian model kuno seperti ini tidak ada undangan resmi, jadi siapapun yang mendengar Gus Lik misalnya, mau datang ke satu tempat, boleh datang. Ditambah acara berlangsung malam hari, jumlah pengangguran bertambah, dan jomblo yang seolah tidak berkurang jumlahnya. Ini semua menambah variable ketidakjelasan jumlah orang yang datang. Dalam satu malam jumlahnya bisa sedikit sampai-sampai setiap orang pulang dengan membawa sisa kacang kulit sampai sak tas kresek. Kadang yang datang ra ngadubillah banyak jumlahnya.

Tuan rumah bahkan tidak mempersiapkan tempat tertentu untuk duduk seperti layaknya acara slametan biasa. Peserta pengajian bebas memilih mau duduk atau berdiri di manapun di tempat yang dirasa paling nyaman. Misal seperti tempat favorit saya, agak gelap dan dekat orang jual kopi di pinggir jalan. Dan ada satu lagi yang khas seperti layaknya acara NU pada umumnya, rokok bebas beredar dan dinikmati di sini.

Lamunan saya buyar saat sepeda motor saya sampai di depan Gedung Kesenian Cak Durasim. Jam di HP menunjukkan jam 11 malam, hati saya rasanya seperti mau janji ketemu dengan mantan yang sudah lost contact lama. Rasa kantuk yang tadi sempat dirasakan, perlahan menghilang. Kangen sekali saya dengan suasana ini. Rasanya sudah lama sekali. Acara pengajian, religi, tapi orang yang tidak pantas seperti saya, merasa diterima dan tidak malu untuk datang. Jangan dibayangkan diterima disini dengan salaman sambil mengucàpkan kalimat toyibah. Tidak, tidak ada yang menjadi penerima tamu, misalnya. Saya sendiri merasa diterima, karena disini tidak ada orang yang menganggap saya ada, namun tidak ada orang yang meremehkan saya. Saya hanya dianggap sebagai manusia yang kebetulan ada disitu.

Masuk ke area pelataran gedung, pikiran pertama yang melintas, ini Cak Nun dateng opo nggak? Ketika saya lihat tidak ada kyai kanjeng, bisa dipastikan Cak Nun tidak datang. Saat ini acara diisi diskusi arek-arek. Diskusi dengan tema tentang “macak gagah” (kepalsuan sikap dengan tampil hebat yang dibuat-buat), yang berlangsung lumayan lama dengan beberapa kelompok peserta maiyah.

Saya cari posisi yang paling nyaman buat duduk, yaitu selonjoran kaki di pinggir jalan. Dalam perjalanan tadi, saya sudah sempat beli rokok dan minuman botol. Sudah diputuskan untuk pulang jam 2.30, jadi jangan sampe putus di tengah jalan.

Sekitar jam 1 dini hari, Kyai Muzammil dan Mas Sabrang dipersilahkan naik ke atas panggung, yang menandai selesainya acara diskusi arek-arek dalam tema maiyah kali ini, dan dimulainya acara inti. Cak Nun memang tidak hadir di acara kali ini.

Kyai Muzammil tetep pakai baju kebesarannya -sarung, kopyah, baju putih. Ini bisa menimbulkan kecurigaan, bahwa lemari beliau isinya baju model beginian semua. Sementara mas Sabrang pakai jaket coklat, dan celana gombrong model pencak. Keduanya hadir sambil sesekali klepas-klepus dengan udud masing-masing.

Kyai Muzammil yang bicara pertama menyampaikan bahwa untuk menjadi insan yang lebih baik, sebisa mungkin manusia harus bersikap apa adanya atau tidak akting. Di sinilah sudahnya. Bersikap apa adanya ini tidak seperti yang disampaikan anak-anak SMP atau SMA. Contohnya seperti Cak Nun yang diibaratkan sebuah pohon. Pohon ini bijinya ditanam di dalam tanah. Akarnya menghunjam jauh ke dalam tanah. Sehingga pohon ini bisa tumbuh kokoh dan rindang. Yang dimaksudkan, pohon ini bisa tampil gagah, megah, tapi sangat membumi dan memang apa adanya.

Pandangan yang agak berbeda di sampaikan Mas Sabrang. Menurut beliau, tidak apa-apa untuk sedikit tampil wah dan tidak apa adanya. Dengan catatan, harus diperhatikan dulu, tujuan dari tindakan tersebut. Misalkan, ada orang yang saking apa adanya, akhirnya sampai malas mandi. Namun akhirnya pada saat orang ini menghadiri acara pernikahan temannya, dia mandi, mengenakan pakaian terbaiknya dan memakai minyak wangi. Tujuan dari tindakannya ini adalah untuk menghormati sahabatnya.

Dari pemikiran Mas Sabrang ini, bisa ditarik kesimpulan bahwa ada banyak alasan bagi seseorang bahwa macak gagah ini kadang harus dilakukan. Karena manusia hidup bermasyarakat, sehingga tindakan apapun yang dilakukan akan memiliki konsekuensi terhadap orang terdekat (anak, istri, tetangga, orang tua).

Tidak terasa sekarang sudah jam 2.30 dini hari. Hadirin berdiri dan mulai melantunkan solawat kepada Kanjeng Nabi, yang menandakan berakhirnya bangbang wetan kali ini. Dalam perjalanan pulang, ada pemikiran yang melintas. Dulu pernah ada seorang teman yang bilang, lebih tepatnya mengutip sebuah kalimat “fake it ’till make it”. Artinya kurang lebih, palsukan sampai bisa menjadi kenyataan, atau palsukan sampai menjadi kebiasaan. Sehubungan dengan tema macak gagah, sepertinya ini jawaban yang cukup masuk akal juga. Dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan tentunya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *